Beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi menjadi salah satu pengalaman yang paling dinantikan jamaah umrah. Selain karena berada di dua kota suci, shalat di kedua masjid tersebut memiliki keutamaan yang disebut secara khusus dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Keutamaan ini tentu menjadi dorongan bagi jamaah untuk memperbanyak ibadah selama berada di Makkah dan Madinah. Namun, kesempatan tersebut sebaiknya tidak hanya dipahami dari besarnya pahala. Masa berada di Tanah Suci juga bisa menjadi waktu untuk memperbaiki kualitas shalat dan membangun kebiasaan ibadah yang tetap dijaga setelah pulang.
Pahala Sholat di Masjid Nabawi
Masjid Nabawi berada di Madinah dan menjadi masjid yang dibangun Nabi Muhammad SAW setelah hijrah. Bagi jamaah umrah yang menjalani program perjalanan ke Madinah, shalat di masjid ini tentu menjadi kesempatan yang sangat berharga.
Dalam Sahih Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa satu kali shalat di masjid beliau lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Riwayat dengan makna yang sama terdapat melalui beberapa jalur dalam Sahih Muslim.
Hadis tersebut menunjukkan keutamaan Masjid Nabawi secara keseluruhan. Karena itu, jamaah tidak perlu merasa ibadah hanya bernilai jika berhasil mendapatkan tempat di Raudhah. Raudhah memang memiliki keistimewaan tersendiri, tetapi shalat di bagian lain Masjid Nabawi tetap termasuk dalam keutamaan shalat di masjid tersebut.
Selama berada di Madinah, jamaah dapat mengatur waktu dengan baik untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Agenda ziarah ke tempat bersejarah tetap bisa dilakukan tanpa mengurangi perhatian terhadap ibadah di Masjid Nabawi.
Pahala Sholat di Masjidil Haram
Masjidil Haram memiliki kedudukan yang lebih utama lagi. Dalam Sunan Ibn Majah nomor 1406, dari Jabir RA, Rasulullah SAW menyebut bahwa satu kali shalat di Masjid Nabawi lebih utama daripada seribu shalat di tempat lain kecuali Masjidil Haram. Dalam riwayat yang sama disebutkan bahwa satu kali shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di tempat lain. Riwayat tersebut dinilai sahih dalam rujukan hadis yang digunakan.
Bagi jamaah umrah, keutamaan ini menjadi alasan untuk memanfaatkan waktu di Makkah sebaik mungkin. Setelah menyelesaikan rangkaian umrah, jamaah dapat memperbanyak shalat dan ibadah lain di Masjidil Haram sesuai kemampuan.
Meski begitu, jangan sampai angka seribu atau seratus ribu membuat ibadah berubah menjadi sekadar perhitungan pahala. Tujuan shalat tetaplah beribadah kepada Allah SWT dengan khusyuk dan penuh kesadaran.
Tetap Perhatikan Kondisi Fisik Selama Umrah
Semangat memperbanyak shalat perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Jamaah umrah menjalani aktivitas yang cukup padat, mulai dari perjalanan, tawaf, sa’i, berjalan antara hotel dan masjid, hingga menghadapi kepadatan jamaah dan perubahan cuaca. Kondisi tersebut dapat cukup melelahkan, terutama bagi jamaah lanjut usia.
Tidak perlu memaksakan diri hingga kesehatan terganggu. Jaga waktu istirahat, cukupi kebutuhan cairan, makan secara teratur, dan ikuti arahan pembimbing jika kondisi masjid sedang sangat padat. Jamaah dengan penyakit tertentu juga sebaiknya mengikuti saran dokter mengenai aktivitas yang aman dilakukan. Menjaga tubuh membantu jamaah tetap kuat menjalani rangkaian umrah dan ibadah selama berada di Tanah Suci.
Membawa Kebiasaan Baik Setelah Pulang
Keutamaan shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memang tidak ditemukan di masjid biasa. Namun, salah satu hasil yang bisa dibawa pulang dari perjalanan umrah adalah kebiasaan menjaga shalat.
Jika selama di Makkah dan Madinah jamaah terbiasa datang lebih awal ke masjid, menjaga shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, atau memperbanyak shalat sunnah, kebiasaan tersebut dapat diteruskan setelah kembali ke Indonesia. Dengan begitu, pengalaman umrah tidak berhenti ketika perjalanan selesai.
Referensi :
● Sahih Muslim No. 1394a–1395a.
● Sunan Ibn Majah No. 1406.
