Air Zamzam hampir selalu menjadi bagian dari pengalaman jamaah umrah ketika berada di Makkah. Jamaah dapat meminumnya di kawasan Masjidil Haram dan biasanya juga ingin membawanya pulang untuk keluarga. Namun, Zamzam bukan sekadar air yang identik dengan perjalanan ke Tanah Suci.
Sejarahnya berkaitan dengan Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Nabi Ismail AS, jauh sebelum masa Nabi Muhammad SAW. Memahami kisah dan keutamaannya membuat jamaah tidak hanya menikmati Zamzam sebagai bagian dari perjalanan umrah, tetapi juga mengetahui sejarah yang ada di baliknya.
Sejarah Awal Sumur Zamzam
Kisah Zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar dan putranya, Ismail AS, di lembah Makkah yang saat itu belum memiliki sumber air. Ketika persediaan air habis, Hajar berusaha mencari pertolongan dengan bergerak antara Bukit Safa dan Marwah. Setelah berulang kali mencari air, sumber Zamzam kemudian muncul di dekat Ismail.
Kisah tersebut mempunyai hubungan erat dengan rangkaian sa’i yang dilakukan jamaah saat umrah. Ketika berjalan antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, jamaah tidak hanya menjalankan salah satu rukun umrah, tetapi juga berada di kawasan yang mengingatkan pada perjuangan Hajar mencari air untuk putranya.
Sumur Zamzam sendiri berada di kawasan Masjidil Haram. Seiring bertambahnya jumlah jamaah, pemerintah Arab Saudi terus mengembangkan sistem pengambilan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi air Zamzam agar dapat digunakan oleh jamaah dalam jumlah besar.
Apa Keutamaan Air Zamzam?
Salah satu hadis yang sering dijadikan dasar mengenai keutamaan Zamzam berasal dari Jabir bin Abdullah RA. Dalam Sunan Ibn Majah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Air Zamzam sesuai dengan tujuan ia diminum.” Riwayat ini menjadi salah satu dasar mengapa banyak jamaah meminum Zamzam sambil menghadirkan niat dan berdoa kepada Allah SWT.
Ada pula riwayat mengenai Abu Dzar RA yang bertahan dengan air Zamzam. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW menyebut Zamzam sebagai air yang diberkahi dan memiliki sifat mengenyangkan seperti makanan. Keutamaan ini tentu membuat Zamzam memiliki tempat khusus bagi umat Islam. Namun, jamaah tetap perlu berhati-hati terhadap klaim yang berlebihan.
Keutamaan Zamzam dalam sumber agama tidak otomatis berarti seseorang dapat menganggapnya sebagai pengganti pengobatan medis. Jika mempunyai masalah kesehatan tertentu, pemeriksaan dan pengobatan tetap perlu dilakukan sesuai kebutuhan.
Bagaimana Adab Minum Air Zamzam?
Saat minum Zamzam, jamaah dapat menghadirkan niat yang baik dan memohon kepada Allah sesuai kebutuhan. Dalam adab minum secara umum, Rasulullah SAW mengajarkan untuk menggunakan tangan kanan. Minum juga dapat dilakukan secara bertahap dan tidak bernapas langsung ke dalam wadah. Ada satu hal yang cukup sering ditanyakan jamaah, yaitu apakah Zamzam harus diminum sambil duduk?
Tidak perlu menjadikannya sebagai syarat khusus. Dalam hadis sahih diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah meminum Zamzam sambil berdiri. Jamaah tidak perlu membuat aturan yang terlalu memaksakan situasi dan kondisi. Yang lebih penting adalah minum dengan adab yang baik, memulai dengan menyebut nama Allah, bersyukur setelahnya, serta menghadirkan doa dan harapan yang baik.
Air Zamzam dalam Perjalanan Umrah
Bagi jamaah umrah, kesempatan minum Zamzam biasanya tersedia selama berada di Masjidil Haram. Momen tersebut dapat menjadi pengingat terhadap kisah Hajar dan Ismail AS, sekaligus perjuangan yang kemudian berkaitan erat dengan rangkaian sa’i.
Jamaah juga sebaiknya mengikuti aturan yang berlaku apabila ingin membawa Zamzam ketika kembali ke Indonesia. Ketentuan maskapai, bandara, dan pengangkutan dapat berubah, sehingga informasi terbaru sebaiknya diperiksa sebelum kepulangan.
Zamzam sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai oleh-oleh dari Tanah Suci. Ada nilai sejarah dan pelajaran tentang ikhtiar, kesabaran, dan pertolongan Allah di balik keberadaannya.
Karena pada dasarnya, aiir Zamzam memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Nabi Ibrahim AS, Hajar, dan Nabi Ismail AS. Keutamaannya juga disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW, termasuk riwayat bahwa Zamzam diminum sesuai dengan tujuan atau niat seseorang.
Bagi jamaah umrah, memahami sejarah tersebut membuat pengalaman minum Zamzam menjadi lebih bermakna. Di balik setiap tegukan, ada kisah perjuangan Hajar, hubungan dengan Safa dan Marwah, serta pengingat tentang pentingnya ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.
Referensi:
● Saudipedia.com.
● Saudi Press Agency.
● Sunan Ibn Majah No. 3062.
● Sahih al-Bukhari No. 1637 dan 5617.
