Bilal bin Rabah RA termasuk sahabat Nabi Muhammad SAW yang namanya sangat lekat dengan sejarah azan. Ketika kaum Muslimin telah berada di Madinah dan membutuhkan panggilan untuk menandai waktu shalat, Rasulullah SAW memerintahkan Bilal untuk menyerukannya. Riwayat mengenai perintah tersebut tercantum dalam Sunan an-Nasa’i.
Selain dikenal sebagai muazin, Bilal juga memiliki kisah yang cukup populer. Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa beliau mendengar suara langkah Bilal di surga. Dari riwayat inilah muncul ungkapan “sandal Bilal masuk surga”. Namun, ungkapan tersebut perlu dipahami sesuai isi hadis agar tidak menimbulkan pengertian yang keliru.
Kisah Langkah Bilal yang Terdengar di Surga
Dalam Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW bertanya kepada Bilal mengenai amalan yang paling ia harapkan pahalanya setelah memeluk Islam. Nabi menjelaskan bahwa beliau mendengar suara langkah Bilal di hadapan beliau di surga. Jawaban Bilal ternyata sederhana. Setiap kali berwudhu, baik pada siang maupun malam hari, ia berusaha mengerjakan shalat dengan wudhu tersebut sebanyak yang mampu dilakukan. Riwayat dengan makna serupa juga terdapat dalam Sahih Muslim.
Dari sini, ungkapan “sandal Bilal masuk surga” tidak sebaiknya dipahami bahwa sandal Bilal sebagai benda mempunyai keistimewaan tertentu. Hadis tersebut menceritakan bahwa Rasulullah SAW mendengar suara langkah atau sandal Bilal di surga. Justru bagian yang lebih penting adalah amalan yang dijaga Bilal. Ia terbiasa menjaga wudhu dan melanjutkannya dengan shalat. Sebuah kebiasaan yang terlihat sederhana, tetapi dilakukan dengan konsisten.
Bilal bin Rabah dan Sejarah Azan di Madinah
Nama Bilal juga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kaum Muslimin di Madinah. Pada masa awal, kaum Muslimin belum memiliki panggilan khusus untuk menandai waktu shalat. Dalam Sunan an-Nasa’i diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab RA mengusulkan agar seseorang menyerukan waktu shalat. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan Bilal untuk berdiri dan menyerukan panggilan tersebut.
Ada pula riwayat yang menjelaskan petunjuk Rasulullah SAW kepada Bilal mengenai azan dan iqamah. Inilah yang membuat nama Bilal sangat dikenal dalam sejarah azan pada masa Nabi. Bagi jamaah umrah yang berkunjung ke Madinah, kisah tersebut terasa dekat. Ketika mendengar azan berkumandang di Masjid Nabawi, jamaah sedang berada di kota tempat Bilal menjalankan perannya sebagai salah seorang muazin Rasulullah SAW.
Pelajaran dari Kisah Bilal bin Rabah
Ada pelajaran yang bisa dipetik dari jawaban Bilal kepada Rasulullah SAW, yakni:
ibadah yang dijaga secara konsisten dapat memiliki nilai yang besar di sisi Allah SWT.
Bilal tidak menyebut amalan yang terlihat sulit atau luar biasa. Ia menyebut kebiasaannya melalukan sholat sunnah setelah berwudhu.
Mengenang Bilal bin Rabah Saat Berada di Madinah
Jamaah tidak memerlukan ritual khusus untuk mengenang Bilal bin Rabah ketika berada di Madinah. Kisahnya cukup dipahami sebagai bagian dari sejarah Islam dan sumber pelajaran dalam beribadah.
Ketika berada di Masjid Nabawi, jamaah dapat menggunakan waktu untuk memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Kisah Bilal dapat menjadi pengingat bahwa kedekatan kepada Allah juga dibangun melalui amalan sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus dijaga.
Bilal bin Rabah RA dikenal sebagai sahabat Rasulullah SAW yang memiliki peran penting dalam sejarah azan. Ia juga disebut dalam hadis sahih ketika Rasulullah SAW menceritakan bahwa beliau mendengar suara langkah Bilal di surga.
Pesan utama kisah tersebut bukan terletak pada sandalnya, melainkan pada kebiasaan Bilal menjaga wudhu dan mengerjakan shalat setelah bersuci. Bagi jamaah umrah, kisah Bilal dapat menjadi pengingat bahwa perjalanan ke Tanah Suci juga merupakan kesempatan untuk membangun kebiasaan ibadah yang tetap dijaga setelah kembali ke rumah.
Referensi:
- Sahih al-Bukhari No. 1149
- Sahih Muslim No. 2458
- Sunan an-Nasa’i No. 626
- Sunan an-Nasa’i No. 627
